LPDB Gelar INSYAF Guna Tingkatkan Market Share Keuangan Syariah

“Kita dari LPDB mendorong bagaimana bisa berkontribusi meningkatkan market share keuangan syariah” kata Braman Setyo dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Capaian market share keuangan syariah di Indonesia masih jauh dibandingkan negara-negara dengan penduduk muslim lainnya. Antara lain Malaysia yang mencapai 24,7 persen dan Arab Saudi sebesar 51,1 persen.

 

Braman menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi minimnya market share. Salah satunya, yaitu masih minimnya keuangan syariah melakukan penetrasi sektor riil yang produktif di masyarakat, termasuk di sektor inklusi mikro dan usaha kecil.

“Karena itu berbagai upaya strategis dilakukan LPDB-KUMKM dalam mengakselerasi keterlibatan berbagai lembaga pembiayaan syariah dan pemberdayaan KUMKM di Indonesia khususnya pembiayaan pola syariah, salah satunya melalui INSYAF ini,” tambah Braman.

Faktor lainnya yaitu adanya asumsi lembaga keuangan syariah khususnya perbankan lebih banyak mengarah pada pembiayaan sektor usaha menengah ke atas dan hampir mengabaikan sektor usaha mikro dan kecil. Hal tersebut seperti yang disampaikan Direktur Pembiayaan Syariah LPDB-KUMKM Jaenal Aripin.

“Arah ini kemudian menafikan para pelaku usaha mikro dan kecil bersentuhan dengan lembaga perbankan, sehingga terkesan lembaga keuangan bank sangat eksklusif atau hanya bisa diakses para pengusaha pada level tertentu, dan tidak terbuka untuk pengusaha dari berbagai level,” ucap Jaenal.

Jaenal berharap lembaga keuangan khususnya perbankan nantinya akan menjadi lebih inklusif atau terbuka kepada para pengusaha dari berbagai level, termasuk juga sektor usaha mikro, dengan adanya INSYAF ini. Dengan begitu, para pengusaha mikro yang selama ini belum banyak menikmati bantuan pinjaman dari lembaga keuangan bisa terfasilitasi.

“Harapan ini wajar, mengingat secara kuantitas pengusaha mikro, menempati jumlah terbesar dari skala usaha yang ada di Indonesia,” terangnya.

INSYAF yang fokus pada arah baru keuangan syariah yang lebih inklusif dan banyak menitikberatkan pada usaha mikro, juga ingin mendorong munculnya Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang lebih besar lagi. Sehingga LKMS ini, selain berfungsi sebagai lembaga inklusif bagi masyarakat atau akses ke perbankan, juga bisa dijadikan sebagai instrumen keuangan yang fokus melayani kebutuhan permodalan bagi pengusaha mikro dan kecil.

“Sehingga kebutuhan permodalan bagi pengusaha dari skala mikro, kecil, menengah sampai besar bisa terlayani oleh lembaga keuangan. Efek positifnya, lembaga keuangan bisa lebih inklusi karena bisa diakses oleh masyarakat dari seluruh kalangan,” tambah Jaenal.

Di samping itu, ia berharap INSYAF 2018 ini menjadi akselerator dalam menumbuhkan gairah percepatan pengembangan KUMKM Indonesia yang tersaji dalam keindahan dan kreatifitas, dengan tidak mengesampingkan sisi edukatif.

Dengan demikian, para peserta maupun pengunjung dapat memperoleh manfaat yang maksimal, baik dalam pengetahuan, pemasaran, permodalan, teknologi, maupun kelembagaan, serta jejaring dalam ekonomi syariah dan produk halal.

“Harapannya event yang akan berlangsung setiap tahun ini akan menjadi rujukan atau tempat bertemunya berbagai pihak yang terkait dengan pola pembiayaan syariah,” katanya.

Keuangan Syariah di Indonesia

Presiden Joko Widodo rencananya akan membuka Indonesia Syariah Fair (INSYAF) yang akan berlangsung selama tiga hari di Balai Kartini Jakarta. INSYAF akan dirangkai dengan berbagai kegiatan menarik. Di antaranya diskusi, seminar, talkshow, lomba karya tulis ilmiah, pemberian award kepada mitra LPDB-KUMKM terbaik, sejumlah tutorial, table top, pemberian modal usaha terhadap KUMKM terdampak bencana, dan pameran.

Terkait keuangan syariah, Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan, dirinya optimistis Indonesia dapat menjadi pusat keuangan syariah di dunia. Presiden beralasan Indonesia memiliki modal besar untuk mencapai tujuan tersebut yaitu penduduk muslim terbesar di dunia.

 

Indonesia saat ini telah memiliki 34 bank syariah, 58 asuransi syariah, 7 modal ventura syariah, rumah gadai syariah, dan lebih dari 5.000 lembaga keuangan mikro syariah. Total pelanggan dari semua keuangan syariah tersebut sudah mencapai 23 juta pelanggan.

Jokowi meyakini keuangan syariah juga dapat menjadi cara utama dalam pembiayaan pembangunan di Indonesia. Baik pembangunan ekonomi, infrastruktur, jalan, jembatan, pelabuhan, pembangkit listrik atau dalam pembiayaan program pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan sosial.

Di samping itu, bagi LPDB-KUMKM, INSYAF selain mendorong peningkatan market share keuangan syariah di Indonesia, diharapkan juga dapat ikut menyukseskan target penyaluran dana LPDB-KUMKM sebesar Rp 1,2 triliun.

Dana sebesar Rp 1,2 triliun tersebut terbagi menjadi dua yaitu konvensional dan syariah. Untuk konvensional, dana yang terserap ditargetkan sebesar Rp 750 miliar. Sedangkan untuk syariah ditargetkan dapat disalurkan sebesar Rp 450 miliar.

LPDB-KUMKM merupakan Lembaga bentukan Kementerian Koperasi dan UKM. LPDB-KUMKM bertugas melaksanakan pengelolaan dana bergulir untuk pembiayaan KUMKM antara lain berupa pinjaman dan bentuk pembiayaan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan KUMKM, dimana ketentuan mengenai kriteria KUMKM di tetapkan oleh LPDB-KUMKM.

Sebelum dibentuknya LPDB-KUMKM, pengelolaan Dana Bergulir untuk Koperasi dan UMKM dilaksanakan oleh Deputi-deputi lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM. Sejak dibentuk pada 2006 silam, LPDB-KUMKM telah bermitra dengan 4.300 koperasi di seluruh Indonesia, 1.014.078 UKM dan telah melibati 1.847.787 tenaga kerja dengan total dana tersalur sebesar Rp 8,5 triliun.

Reporter: Sponsored
Editor: Tony Ardianto

ADS