Wartawan Saudi Pengkritik Kerajaan Hilang, Ini Respons Iran

loading…

Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi pengkritik rezim kerajaan hilang di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, sejak 2 Oktober 2018. Foto/REUTERS

TEHERAN – Pemerintah Iran memilih menahan diri untuk berkomentar reaktif terkait kasus hilangnya Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi pengkritik rezim kerajaan. Khashoggi hilang setelah memasuki kantor Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober lalu.

Teheran selama ini menjadi rival utama Riyadh di Timur Tengah. Kebijakan kedua negara berseberangan dalam beberapa krisis, termasuk krisis Suriah dan Yaman.

Namun, dalam kasus hilangnya Khashoggi Iran menyatakan akan mengadopsi pendekatan wait-and-see (menunggu-dan-melihat).

“Kami lebih suka menunggu sampai lebih banyak rincian dan fakta-fakta terungkap. Terlalu dini untuk berkomentar,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Bahram Qasemi pada konferensi pers, disiarkan langsung di stasiun televisi negara Iran, Senin (15/10/2018), seperti dikutip Reuters.

Sumber pemerintah Turki mengutip investigator polisi mengatakan, jurnalis itu dibunuh dan dimutilasi tim algojo Riyadh. Namun, Riyadh membantahnya.

Amerika Serikat (AS) sudah mengancam akan memberikan “hukuman berat” kepada Saudi jika terbukti mendalangi dugaan pembunuhan terhadap Khashoggi.

Namun, Riyadh yang sejak awal merasa tidak bersalah mengancam akan membalas sanksi terhadap semua negara, termasuk AS, jika “menghukum” Saudi.

“Kerajaan menegaskan bahwa jika ada tindakan yang diambil terhadapnya, (kerajaan) ini akan menanggapinya dengan tindakan yang lebih besar,” tulis kantor berita negara Saudi, SPA, mengutip seorang pejabat Saudi yang tidak disebutkan namanya.

“Kerajaan menegaskan penolakan kategorisnya terhadap setiap ancaman dan upaya untuk mencelakainya dengan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi atau pelaksanaan tekanan politik,” lanjut pejabat itu, yang menambahkan bahwa ekonomi Saudi vital dan berpengaruh terhadap ekonomi global.

(mas)