Kursus Bahasa Indonesia Semakin Jadi Primadona di Saudi

loading…

Program kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang dgelar KJRI Jeddah kian diminati warga Saudi dan ekspatriat yang tinggal di Jeddah dan kota sekitarnya. Foto/KJRI Jeddah

JEDDAH – Program kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang diselenggarakan oleh Konsulat Jederal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah kian diminati warga Arab Saudi dan ekspatriat yang tinggal di Jeddah dan kota-kota sekitarnya. 

Untuk menjawab besarnya animo masyarakat, KJRI Jeddah kembali mengadakan BIPA gelombang II untuk 2018 yang dibuka secara resmi oleh Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin.

“Biasanya BIPA hanya diselenggarakan sekali dalam setahun selama tiga bulan. Tapi, tahun ini kami tambah menjadi dua kali, karena banyaknya permintaan masyarakat di sini yang ingin belajar bahasa Indonesia,” ujar Herry, seperti dikutip Sindonews dari laman resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Rabu (17/10).

Pembukaan Program Kursus BIPA gelombang II diikuti sebanyak 62 peserta berlangsung di Lobi Utama KJRI Jeddah. Peserta terdiri dari 50 orang warga Saudi, delapan warga negara Yaman, satu warga negara Yordania, satu warga negara Amerika Serikat, dan dua peserta masing-masing berwarga negara Mauritania dan Pakistan.

Menurut panitia, dalam tempo dua pekan, sebanyak 107 orang mengajukan berkas pendaftaran meliputi formulir yang telah diisi, fotokopi paspor, kartu identitas, pas foto, keterangan tertulis seputar tujuan belajar bahasa Indonesia dan surat izin dari sponsor bagi warga non-Saudi.

Pengajar BIPA gelombang II didatangkan dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai hasil upaya kerja sama yang dirintis KJRI Jeddah dengan perguruan tinggi di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.

Di hadapan peserta yang hadir pada saat pembukaan, Herry menyampaikan, program kursus BIPA merupakan wujud dukungan Pemerintah Indonesia terhadap visi 2030 Pemerintah Arab Saudi, yang salah satunya adalah pengembangan sektor pariwisata sebagai bagian dari kebijakan diversifikasi ekonomi.

Hal ini juga sejalan dengan penetapan Madinah sebagai “Ibu Kota Wisata Islam 2017″ dalam pertemuan menteri parisiwata negara-negara OKI  pada 2015 silam di Niamey, Ibu Kota Nigeria.

Herry lalu menyebut, jumlah jemaah haji dan umrah Indonesia mencapai lebih dari 1,2 juta orang dengan konsentrasi pergerakan mereka di tiga kota: Jeddah, Mekkah, dan Madinah.

“Apalagi Pemerintah Saudi mencanangkan destinasi wisata baru di kota-kota lain yang terbuka untuk pengunjung umum, tentu ini akan membawa dampak ekonomi,” pungkasnya.

(esn)