Pengusaha Keramik Keluhkan Mahalnya Harga Gas

Liputan6.com, Jakarta – Pelaku industri keramik meminta pemerintah serius dalam menurunkan harga gas bagi industri. Pasalnya, hingga saat ini harga bahan baku tersebut masih terbilang mahal.

Marketing Manager PT Saranagriya Lestari Keramik, Susan Anindita mengatakan, saat ini rata-rata harga gas industri masih sekitar USD 9 per MMBTU. Padahal Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah meminta agar harga gas industri turun sehingga beban produksi industri lebih ringan. Namun nyatanya sampai saat ini harga gas masih mahal.

“Kita harusnya harga gas industri itu di bawah rata-rata harga di dunia. Bertahun-tahun seperti ini dan masih mahal juga padahal Presiden bilang diturunkan tapi tetap tidak turun,” ujar dia di Jakarta, Kamis (18/10/2018).‎

Menurut dia, mahalnya harga gas ini sangat berpengaruh pada kinerja industri keramik. Selain karena faktor persaingan yang ketat dan serbuan produk impor, harga gas yang mahal membuat banyak industri keramik tutup usaha.

“Saya enggak tahu kenapa kok pemerintah sepertinya sulit menurunkan harga gas itu,” kata dia.

Anindita menjelaskan, harga gas industri saat ini sekitar USD 8,03 per MMBTU di Jawa Timur dan di Jawa Barat harga gas mencapai USD 9,15 per MMBTU, bahkan di Sumatera Utara harganya mencapai USD 9,8 per MMBTU.

Sedangkan di negara tetangga seperti, Malaysia harga gas industri hanya dipatok sebesar USD 6 per MMBTU. Sementara di kawasan Eropa hanya sekitar USD 3 per MMBTU.  

“Ini membuat daya saing produk keramik dalam negeri terseok-seok di tengah masifnya produk keramik impor,” tandas dia.