Pompeo dan Erdogan Bahas Kasus Khashoggi

loading…

ANKARA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo bertemu Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu untuk membahas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

Pertemuan ini berlangsung saat tekanan meningkat terhadap Saudi untuk memberi jawaban setelah Turki menuduh Khashoggi dibunuh di konsulat Saudi. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirim Pompeo untuk membahas masalah itu dengan Raja Saudi Salman dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Khashoggi merupakan warga negara Saudi dan tinggal di AS. Dia hilang saat mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul pada Selasa (2/10) untuk mengurus dokumen pernikahan.

Menlu Turki Cavusoglu menyatakan, Pompeo akan memberi informasi tentang kasus itu. Namun, tak ada informasi yang diungkapkan kepada pup blik setelah pertemuan di bandara selama 40 menit antara Pompeo dan Cavusoglu.

Erdogan pun menyebut pertemuan itu bermanfaat dan membuahkan hasil. Pompeo belum memberi keterangan lebih lanjut. Setelah bertemu Raja Salman dan Putra Mahkota, Pompeo menyatakan bahwa Saudi berkomitmen melakukan investigasi penuh.

“Mereka mengindikasikan mereka paham untuk menyelesaikannya tepat waktu, cepat, sehingga mereka dapat mulai menjawab berbagai pertanyaan penting,” tutur Pompeo, dikutip kantor berita Reuters.

Ditanya apakah Raja Salman dan putra mahkota mengatakan Khashoggi masih hidup atau mati, Pompeo menjawab, “Mereka tidak bicara tentang fakta apa pun.” Para pejabat Turki yakin Khashoggi dibunuh dan jasadnya dipindahkan.

Sumber di Turki menjelaskan, otoritas memiliki rekaman audio yang menunjukkan Khashoggi dibunuh di dalam konsulat. Saudi menyangkal tuduhan itu. Para investigator Turki menggeledah konsulat untuk pertama kali pada Senin (15/-10) malam.

Mereka mengumpulkan bukti kuat, tapi tidak ada bukti konklusif bahwa Khashoggi dibunuh di sana. Erdogan menyatakan, beberapa bagian di konsulat itu telah dicat ulang. Penggeledahan di kediaman konsul Saudi dan sejumlah kendaraan ditunda setelah konsul kembali ke Riyadh pada Selasa (16/10).

“Kemarin (Saudi) tidak ingin penggeledahan dilakukan karena keluarga konsul di dalam. Meski demikian, menurut informasi yang kami terima, kami perkirakan mendapat izin hari ini,” papar Cavusoglu.

Bagaimana putra mahkota keluar dari krisis ini menjadi ujian bagaimana Barat menghadapi Saudi pada masa depan. Isu itu akan membuat Barat semakin yakin bahwa tanggung jawab kasus Khashoggi berada di tangan putra mahkota Saudi.

Surat kabar pro-pemerintah Turki merilis bukti awal pekan lalu dari investigator yang mengidentifikasi 15 anggota tim intelijen Saudi yang tiba di Istanbul dengan paspor diplomatik beberapa jam sebelum Khashoggi hilang.

(don)